![]() |
| Pengukuhan pimpinan cabang muhammadiyah kecamatan warungpring |
Muhammadiyah Warungpring - 5 Alasan Mengapa Jabatan Pimpinan di Muhammadiyah Tidak Jadi Rebutan. Pernahkah kita perhatikan, mengapa di Muhammadiyah jabatan pimpinan tidak pernah menjadi rebutan? Bahkan sering kali, ketika pemilihan berlangsung, yang terpilih justru berkata dengan rendah hati: “Waduh, saya ini sebenarnya tidak pantas, tapi kalau ini amanah jamaah, insyaAllah saya jalankan sebaiknya.”
Inilah salah satu keindahan budaya organisasi kita di Muhammadiyah. Ada minimal 5 alasan yang menurut penulis membuat jabatan di Muhammadiyah itu tidak menjadi rebutan:
1.Karena jabatan di Muhammadiyah bukan kehormatan, tapi amanah.
Menjadi pimpinan bukan untuk dipuji, tapi untuk melayani.
Bukan mencari kekuasaan, tapi menunaikan tanggung jawab dakwah dan pembinaan umat.
Makanya, banyak yang justru merasa berat, bukan bangga.
2.Karena pemilihannya bersih dari kampanye dan kepentingan pribadi.
Di Muhammadiyah tidak ada baliho calon pimpinan, tidak ada janji-janji politik, tidak ada rebutan suara.
Yang ada hanyalah musyawarah yang tenang, mempertimbangkan siapa yang paling amanah, paling istiqamah, dan paling siap mengabdi.
3.Karena jabatan di Muhammadiyah tidak menjanjikan keuntungan duniawi.
Tidak ada gaji besar, tidak ada fasilitas mewah.
Bahkan sering kali, justru pimpinan yang berkorban tenaga, waktu, bahkan biaya pribadi untuk kegiatan organisasi.
Inilah keikhlasan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah sejak zaman Kiai Dahlan.
4.Karena budaya kerja kita bersifat kolektif dan ikhlas.
Keputusan tidak diambil oleh satu orang, tapi dengan musyawarah bersama.
Yang dipentingkan bukan siapa yang paling berkuasa, tapi bagaimana semua bisa berkontribusi untuk kemajuan umat.
Dan terakhir yaitu yang ke 5, Karena kita meneladani para pendiri dan pimpinan terdahulu yang hidup sederhana, rendah hati, dan bekerja lillahi ta’ala.
Mereka tidak mencari panggung, tapi mencari ridha Allah.
Itulah sebabnya, di Muhammadiyah yang terjadi bukan “rebutan jabatan”, tapi “rebutan berbuat kebaikan”.
Kalau di tempat lain jabatan adalah kursi empuk, maka di Muhammadiyah jabatan adalah tikar sajadah tempat kita bersujud dan berjuang.
Semoga semangat keikhlasan ini tetap terjaga dalam diri kita semua

0 Komentar